Selasa, 14 Februari 2012

TEORI AKUNTANSI NORMATIF DAN POSITIF

TEORI AKUNTANSI  NORMATIF DAN POSITIF


A.    Garis Besar Teori Positif Akuntansi
Teori pasar modal efisien gagal menjelaskan perilaku pasar. Berdasarkan teori pasar modal efisien, suatu perubahan akuntansi direaksi oleh pasar hanya apabila perubahan akuntansi tersebut berpengaruh terhadap arus kas perusahaan.
Economic consequences diperlukan untuk mengetahui respon pasar atas perubahan kebijakan akuntansi walaupun perubahan kebijakan akuntansi tersebut tidak berpengaruh secara langsung terhadap arus kas. Karena itu, economic consequences merupakan salah satu anomali pasar modal efisien. Teori akuntansi positif (PAT) adalah penjelasan terhadap adanya economic consequences.
Istilah positif mengacu pada sebuah teori yang mencoba untuk membuat prediksi yang baik terhadap kejadian-kejadian nyata di dunia. Sampai sekarang, teori positif berkenaan dengan prediksi kegiatan seperti pemilihan teori akuntansi oleh perusahaan dan bagaimana perusahaan akan bereaksi merespon standar-standar akuntansi yang baru diajukan.
PAT mengambil sudut pandang bahwa perusahaan mengorganisasi diri mereka sendiri dalam cara yang paling elisien, jadi untuk memaksimalkan prospek mereka untuk bertahan, beberapa perusahaan lebih bersifat desentralisasi dibandingkan yang lain, beberapa perusahaan mengadakan kegiatan internal sementara perusahaan-perusahaan yang lain lebih memilih kegiatan-kegiatan yang lain, beberapa perusahaan lebih banyak membiayai dengan menggunakan hutang dibandingkan yang lainnya, dan seterusnya. Bentuk organisasi yang paling efisien untuk perusahaan-perusahaan tertentu tergantung pada faktor-faktor seperti lingkungannya dipandang dari segi legal/hukum dan institusional, teknologi, tingkat persaingan dalam industri tersebut, dan seterusnya. Jika semua digabungkan, faktor-faktor ini memutuskan suatu set kesempatan investasi yang tersedia bagi perusahaan, dan kemudian, prospek masa depan perusahaan tersebut.
Harus diperhatikan bahwa PAT tidak memaparkan lebih jauh hingga memberikan saran bagi perusahaan (dan para pembuat standar) untuk benar-benar menspesifikasikan secara lengkap kebijakan-kebijakan akuntansi yang akan mereka gunakan. Hal ini akan memakan biaya yang sangat besar. Sangat dimungkinkan untuk memberikan kesempatan yang cukup fleksibel bagi manajer untuk memilih kebijakan akuntansi, sehingga mereka bisa beradaptasi dengan keadaan-keadaan yang baru atau tak disangka-sangka sebelumnya. Sebagai contoh, sebuah standar akuntansi yang baru mungkin bisa menurunkan rasio hutang terhadap harta perusahaan (SFAS 106 berkenaan dengan keuntungan pasca-pensiun, merupakan suatu standar) sampai pada titik dimana pelanggaran terhadap kesepakatan hutang merupakan hal yang penting. Hal ini juga memberikan kemungkinan bagi manajemen untuk menekan biaya. Sebagai contoh, untuk berpindah dari sistem persediaan LIFO menjadi FIFO merupakan cara yang akan ditempuh manajemen untuk meningkatkan harta bahkan setelah terjadi efek dari pajak pendapatan, daripada melakukan negosiasi ulang atas kontrak hutang atau menanggung biaya yang keluar atas pelanggaran teknis.
Bagaimanapun, memberikan kesempatan yang fleksibel bagi manajemen untuk memilih dan seperangkat kebijakan akuntansi membuka kesempatan untuk menimbulkan tingkah laku opotunis/mengambil kesempatan. Maka dari itu, PAT mengasumsikan para manajer cukup rasional (seperti juga para investor) dan akan memilih kebijakan akuntansi sesuai keinginan terbesar mereka jika memang bisa melakukannya. Sampai sekarang, manajer dari perusahaan pengeboran minyak yang aktif, dengan imbalan yang diberikan sesuai dengan kontraknya didasarkan pada pendapatan bersih yang dilaporkan mungkin memilih full-cost accounting daripada successful effort sehingga bisa meningkatkan pendapatan dan meningkatkan nilai masa kini (present value) dari jalur bonus mereka, walaupun pendapatan yang dilaporkan lebih tinggi pada successful efforts bisa meningkatkan probabilitas pajak yang lebih tinggi dan masuknya pendatang baru dalam industri tersebut. Tentu saja, tingkah laku oportunis bisa diantisipasi ketika imbalan, sesuai dengan kontrak manajer, dinegosiasikan dan perusahaan akan melindungi harganya sendiri dengan menurunkan imbalan formal manajer dengan sejumlah oportunistik yang diinginkan. Sehingga, adanya persaingan dalam pasar tenaga kerja bagi para manajer, para manajer tersebut bersedia bekerja dengan kompensasi yang lebih murah dari perusahaan jika mereka bisa meningkatkan kemampuan mereka, dengan memanfaatkan tingkah laku oportunis. Sebagai hasilnya, ketika diberi imbalan sesuai dengan kontrak, manajer mendapatkan insentif dengan bertingkah laku secara oportunis dengan asumsi mereka mampu memilih diantara seperangkat kebijakan akuntansi yang ada.                                    
Seperangkat kebijakan akuntansi yang optimal bagi perusahaan yang kemudian mewakili trade-qff'ierbaik antara kebijakan akuntansi yang meminta secara ketat untuk meminimalisasi biaya kontrak pada situasi tersebut, dan memberikan fleksibilitas bagi manajer untuk mengubah kebijakan akuntansi dengan alasan perubahan situasi yang dihadapi, termasuk juga menghasilkan suatu tingkah laku oportunis. PAT menitikberatkan kebutuhan untuk mengadakan penelitian secara empiris untuk mengetahui kebijakan akuntansi apa saja yang termasuk didalamnya dan bagaimana mereka bervariasi antara satu perusahaan dengan perusahaan lain tergantung pada struktur organisasinya. Jadi tujuan dari teori ini adalah untuk memahami dam memprediksi pemilihan terhadap kebijakan akuntansi diantara perusahaan-perusahaan yang berbeda.
Sampai sekarang, PAT tidak bermaksud untuk menjelaskan pada individu atau konstitusi, apa yang harus mereka lakukan. Teori untuk melakukan ini disebut normatif.. Teori pengambilan keputusan oleh satu orang (the single person decision theory) dan teori investasi (the theory of investment) yang dijabarkan pada Bab 3 dan Bab 4 merupakan contoh dari teori normatif. Jika seorang individu ingin membuat sebuah keputusan dalam ketidakpastian maka diharapkan untuk memaksimalkan utilitas yang dikehendaki, mereka harus melaluinya sesuai dengan tuntunan dalam teori yang direkomendasikan. Terlepas dari benar atau tidak sebuah teori normatif memiliki kemampuan prediksi yang baik, tergantung pada situasi dimana individu mengambil keputusan sesuai dengan yang digambarkan dalam teori. Tentu saja, beberapa teori normatif memiliki kemampuan prediktif, sebagai contoh, kami mengamati beberapa orang yang mendiversifikasikan investasi portofolio mereka. Walau bagaimanapun, kita masih bisa memiliki teori normatif yang baik walaupun teori ini mungkin tidak bisa memprediksi dengan baik. Salah satu alasannya adalah akan memakan waktu tertentu bagi pemakai untuk memahami teori ini. Beberapa orang mungkin tidak mengikuti teori normatif karena mereka tidak memahaminya, karena mereka memilih teori lainnya, atau sekedar hanya karena inertia. Sebagai contoh, investor mungkin tidak mengikuti strategi investasi yang didiversifikasi karena mereka lebih mempercayai analisis teknis, dan mungkin mengkonsentrasikan investasi mereka pada perusahaan yang direkomendasikan oleh analis investor. Tetapi jika teori normatif memang cukup baik, sejalan dengan waktu kita harus melihatnya makin banyak digunakan ketika lebih banyak orang mulai bisa memahaminya. Bagaimanapun, tidak seperti teori positif, kemampuan prediksi bukanlah kriteria yang utama seperti yang banyak digunakan oleh teori normatif. Tetapi, teori positif lebih banyak menggunakan konsistensi logika dengan asumsi-asumsi bahwa seseorang dituntut untuk bisa bertindak secara rasional.
Beberapa orang jadi terikat pada pertanyaan pendekatan teori yang mana yang benar. Sebagai contoh, Boland and Gordon (1992) dan Demski (1988). Untuk tujuan-tujuan kita, bagaimanapun juga, sangat penting untuk melihat bahwa pendekatan normatif dan pendekatan positif terhadap perkembangan teori sangatlah berharga. Untuk memperluas bahwa pengambil keputusan memprosesnya secara normatif, keduanya yaitu teori positif dan teori normatif akan membuat prediksi yang mirip. Dengan berpegang pada tes empiris atas prediksi-prediksi ini, teori positif membantu menjaga teori normatif tetap pada jalurnya. Efeknya, kedua pendekatan ini saling mengisi.

B.    Tiga Hipotesis Teori Akuntansi Positif
Prediksi yang dibuat oleh PAT diorganisasikan secara luas pada tiga hipotesis yang diformulasikan oleh Watts dan Zimmerman (1986). Kita akan memberi ketiga hipotesis ini bentuk oportunistik mereka, karena menurut Watts dan Zimmerman (1990), ini adalah cara yang paling sering digunakan ketika mereka diinterpretasikan :
1.    Hipotesis Rencana Bonus
Dalam hipotesis ini, semua hal lain dalam keadaan tetap, para manajer perusahaan dengan rencana bonus cenderung untuk memilih prosedur akuntansi dengan perubahan laba yang dilaporkan dari periode masa depan ke periode masa kini.
Hipotesis ini tampaknya cukup beralasan. Para manajer perusahaan, seperti orang-orang lain, menginginkan imbalan yang tinggi. Jika imbalan mereka bergantung, paling tidak sebagian, pada bonus yang dilaporkan pada pendapatan bersih, maka kemungkinan mereka bisa meningkatkan bonus mereka pada periode tersebut dengan melaporkan pendapatan bersih setinggi mungkin. Salah satu cara untuk melakukan ini adalah dengan memilih kebijakan akuntansi yang meningkatkan laba yang dilaporkan pada periode tersebut. Tentu saja, sesuai dengan karakter dari proses akrual, hal ini akan cenderung menyebabkan penurunan pada laba dan bonus-bonus yang dilaporkan pada masa yang akan datang, dengan taktor-faktor lain tetap sama. Namun nilai masa kini (present value) dari kegunaan manajer dari lini bonus masa depan yang dimilikinya akan meningkat dengan memberikan perubahan menuju masa kini.
2.    Hipotesis Kontrak Hutang
Dalam hipotesis ini semua hal lain dalam keadaan tetap, makin dekat suatu perusahaan terhadap pelanggaran pada akuntansi yang didasarkan pada kesepakatan utang, maka kecenderungannya adalah semakin besar kemungkinan manajer perusahaan memilih prosedur akuntansi dengan perubahan laba yang dilaporkan dari periode masa depan ke periode masa kini.
Alasannya adalah laba yang dilaporkan yang makin meningkat akan menurunkan kelalaian teknis. Sebagian besar dari perjanjian hutang berisi kesepakatan bahwa pemberi pinjaman harus bertemu selama masa perjanjian. Sebagai contoh, perusahaan yang mendapat pinjaman boleh sepakat memelihara level tertentu dari hutang terhadap harta, laporan bunga, modal kerja, dan harta pemilik saham. Jika kesepakatan semacam itu dikhianati, perjanjian hutang tersebut bisa memberikan/mengeluarkan penalti, seperti pembatasan dividen atau tambahan pinjaman.
Dengan jelas, prospek dari pelanggaran kesepakatan membatasi kegiatan perusahaan dalam operasional perusahaan itu sendiri. Untuk mencegah, atau paling tidak menunda, pelanggaran semacam itu, perusahaan bisa memilih kebijakan akuntansi tertentu yang bisa meningkatkan laba masa kini. Berdasarkan hipotesis kesepakatan hutang, ketika perusahaan mendekati kelalaian, atau memang sudah berada dalam lalai/cacat, lebih cenderung untuk melakukan hal ini.
3.    Hipotesis biaya politik
Dalam hipotesis ini semua hal lain dalam keadaan tetap, makin besar biaya politik yang mesti ditanggung oleh perusahaan, manajer cenderung lebih memilih prosedur akuntansi yang menyerah pada laba yang dilaporkan dari masa sekarang menuju masa depan.
Hipotesis biaya politik memperkenalkan suatu dimensi politik pada pemilihan kebijakan akuntansi.  Perusahaan-pemsahaan yang ukurannya sangat besar mungkin dikenakan standar kinerja yang lebih tinggi, dengan penghargaan terhadap tanggung jawab lingkungan, hanya karena mereka merasa bahwa mereka besar dan berkuasa. Jika perusahaan besar juga memiliki kemampuan meraih profit yang tinggi, maka biaya politik bisa diperbesar.
Perusahaan-perusahaan juga mungkin akan menghadapi biaya politik pada poin-poin waktu tertentu. Persaingan luar negeri mungkin mengarah pada menurunnya profitabilitas kecuali perusahaan yang terkena dampaknya ini bisa mempengaruhi proses politik untuk bisa melindungi impor secara keseluruhan. Salah satu cara untuk melakukan ini adalah dengan mengadopsi kebijakan akuntansi income-decreasing (pendapatan menurun) dalam rangka meyakinkan pemerintah bahwa profit sedang turun.

C.    Riset Empiris PAT

Teori Positif Akuntansi telah membangkitkan begitu banyak riset-riset empiris. Sebagai contoh, laporan Lev (1979), merupakan telaah terhadap PAT, yang tidak membuat rekomendasi apapun tentang bagaimana sebuah perusahaan dan investor harus bereaksi terhadap SFAS 19 exposure draft. Namun, titik beratnya adalah bagaimana investor benar-benar bereaksi terhadap full-cost perusahaan minyak dan gas bumi yang diminta untuk mengubahnya menjadi successful efforts. Sampai sekarang, telaah yang dilakukan Lev membantu kita untuk lebih bisa memahami mengapa perusahaan yang berbeda-beda bisa saja memilih kebijakan akuntansi yang berbeda-beda, mengapa kadang ka1a manajer merasa keberatan atas perubahan kebijakan-kebijakan ini, dan mengapa investor mungin bereaksi terhadap pengaruh potensial yang mungkin muncul dari perubahan kebijakan akuntansi yang berpengaruh pada pendatan bersih. Sesungguhnya, Lev memasukkan hipotesis rencana bonus dan hipotesis kesepakatan hutang sebagai alasan yang mungkin untuk reaksi yang tidak sesuai dengan keinginan dari pasar terhadap prospek perusahaan-perusahaan yang menggunakan  full-cost yang dipaksa  untuk mengubahnya menjadi successful efforts. Pada situasi dimana manajer dimungkinkan untuk bersikap oportunis untuk mendapatkan bonus mereka dan menghindari pelanggaran pada kesepakatan hutang, pasar yang efisien diharapkan untuk bereaksi secara negatif.
Banyak riset PAT yang dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana implikasi dari ketiga hipotesis yang sudah disebutkan diatas, diantaranya :
1.    hipotesis rencana bonus yang diteliti oleh Healy (1985), yang menemukan bukti-bukti bahwa manajer perusahaan dengan rencana bonus yang didasarkan pada pendapatan bersih secara sistematis mengadopsi kebijakan akrual untk memaksimalkan bonus-bonus yang mereka harapkan.
2.    Sweeney (1994) melaporkan bahwa hasil pengujian pada hipotesis kesepakatan hutang. Dia mempelajari sampel sejumlah 130 perusahaan manufaktur yang pertama kali melanggar kesepakatan hutangnya selama periode tahun 1980 sampai 1989, ditambah dengan sampel 130 perusahaan yang industri dan ukurannya mirip, dan tidak melakukan pelanggaran kesepakatan hutang. Sweeney menemukan bahwa dalam periode delapan tahun mulai dari awal lima tahun sebelumnya sampai tahun terjadinya kelalaian, perusahaan pelanggar yang membuat, (dalam rata-rata), perubahan kebijakan akuntansi pada pendapatan yang meningkat yang lebih signifikan daripada perusahaan-perusaliaan yang merupakan sampel kontrol, dan bahwa pengaruh kumulatif rata-rata pada pendapatan bersih yang dilaporkan dari perubahan-perubahan ini lebih signifikan dari perusahaan yang melakukan pelanggaran. Contoh dari perubahan akuntansi pendapatan yang meningkat termasuk perubahan pada asumsi rencana pensiun, pembatasan pensiun, adopsi sistem persediaan FIFO, dan likuidasi sistem persediaan LIFO.
Sweeney juga melaporkan bahwa dari 130 perusahaan yang melakukan pelanggaran, hanya 53 perusahaan yang memang benar-benar membuat perubahan kebijakan akuntansi selama periode delapan tahun yang dikelilingi pelanggaran. Hal ini, menunjukkan hasil pendahuluan selain fakta bahwa 77 perusahaan tidak sedikitpun membuat perubahan pendapatan yang meningkat. Hal ini menimbulkan pertanyaan terhadap bentuk oportunis yang umum dari hipotesis kesepakatan hutang.
Untuk mengetahui mengapa beberapa perusahaan yang melakukan pelanggaran mengadopsi kebijakan akuntansi untuk meningkatkan pendapatan bersih yang dilaporkan dan mengapa beberapa dari mereka tidak, Sweeney mengidentifikasi perusahaan-perusahaan yang melakukan pelanggaran tersebut yang memiliki fleksibilitas akuntansi dan biaya anggaran yang rendah. Dia menemukan bahwa perusahaan pada sampel perusahaan yang melakukan pelanggaran yang memiliki fleksibilitas rendah dan biaya pelanggaran yang rendah membuat sangat sedikit perubahan dibandingkan perusahaan yang yang tidak memiliki karakter seperti itu, menyatakan bahwa manajer cukup rasional responnya terhadap pelanggaran kesepakatan. Mereka muncul untuk trade-off biaya perubahan kebijakan akuntansi melawan keuntungan-keuntungannya.
3.    Jones (1991) menggunakan hipotesis politik dalam menelaah aksi-aksi perusahaan terhadap pendapatan bersih yang dilaporkan lebih rendah selama penelitian impor yang melegakan. Perasaan lega yang dirasakan pada perusahaan yang dipengaruhi oleh persaingan luar negeri yang tidak sehat, sebagian kecil, terpengaruh oleh keputusan politik. Legislasi perdagangan membolehkan pengakuan pada pengawasan seperti perlindungan tarif untuk perusahaan-perusahaan yang terkena dampak persaingan yang tidak sehat dari persaingan luar negeri. The International Trade Commission (ITC - Komisi Perdagangan Internasional) bertanggungjawab untuk menyelidiki apakah perlu atau tidak hukuman. Penyelidikan ini akan mempertimbangkan faktor-faktor ekonomi seperti penjualan dan keuntungan pada perusahaan yang terkena imbas tersebut.
Namun demikian, tetap ada dimensi politis yang bisa dipertimbangkan terhadap pengakuan adanya bantuan, sejak konsumen pada akhirnya harus membayar harga yang lebih tinggi, dan mungkin terdapat pembalasan oleh negara-negara asing. Penetapan hukuman oleh ITC langsung disampaikan pada Presiden, yang mempunyai 60 hari untuk memutuskan apakah akan melakukan pengakuan kelegaan {grand relief) atau tidak. Jika tidak melakukan pengakuan, Kongres bisa masuk dan tidak akan mengindahkan Presiden.
Namun demikian, kemerosotan dari porfitabilitas itu (walaupun tidak dengan sengaja) tingkat kelegaannya harus diakui. Sebagai hasilnya, perusahaan-perusahaan yang terkena imbasnya memiliki insentif untuk memilih kebijakan akuntansi yang bisa menurunkan lebih banyak pendapatan yang dilaporkan, sehingga bisa menjadi tumpuan kasus mereka. Tentu saja, insentif ini akan diketahui oleh ITC, para politisi, dan publik. Namun, seperti yang dipaparkan Jones, konstitusi-konstitusi ini mungkin tidak mempunyai motivasi untuk manipulasi laba oportunis da1am bentuk apapun. Sebagai contoh, efek dari harga yang lebih tinggi, yang akan mengikuti pengakuan terhadap suatu industri, mungkin tidak cukup kuat secara efektifitas biaya bagi costumer untuk melakukan lobby melawannya. Walaupun mungkin ITC tidak sepenuhnya termotivasi untuk menyesuaikan manipulasi laba jika itu hanya simpati priori terhadap perusahaan yang terkena petisi. Tindakan-tindakan yang merupakan kegiatan pencegahan terhadap munculnya manipulasi laba diperkuat jika agak sulit untuk dideteksi.
Cara yang efektif untuk mengurangi laba yang dilaporkan tetapi sulit dideteksi adalah dengan memanipulasi kebijakan akuntansi yang berhubungan dengan metode akrual. Sebagai contoh, sebuah perusahaan mungkin meningkatkan pembebanan pada depresiasi dan amortisasi, hal ini mungkin menyebabkan pencatatan lebih kewajiban pada produk yang dijaminkan, kontinjensi dan rabat, dan ini mungkin menyebabkan pencatatan provisi yang agak bcrlebih pada akun yang agak meragukan dan persediaan yang sudah tidak dipakai lagi. Ini disebut sebagai discretionary accruals.
Jones menelaah apakah perusahaan yang menggunakan dicretionary accrual menurunkan laba yang dilaporkan atau tidak. Dia mengumpulkan sampel sebanyak 23 perusahaan dari lima industri yang terlibat dalam enam penelitian impor relief oleh ITC dalam periode 1980 sampai 1985.
Agak mudah untuk mengetahui total akrual perusahaan dalam satu tahun. Salah satu pendekatannya adalah dengan mengambil perbedaan antara arus kas operasional dengan pendapatan bersih. Akrual diinterpretasikan dengan lebih luas, menjadi sebuah efek bagi semua kejadian yang dicatat selama tahun yang berbeda dengan arus kas. Namun, perubahan pada piutang dan hutang adalah akrual, seperti juga perubahan pada persediaan. Depresiasi beban adalah akrual negatif, menjadi bagian dari biaya properti, instalasi pabrik, dan peralatan yang dicatat pada tahun tersebut. Jones menggunakan pendekatan persamaan (equivalen approach), dengan perubahan non-kas pada modal kerja tahun berjalan dari neraca perbandingan, depresiasi beban sebagai bahan perhitungan total akrual. Namun demikian, memisahkan total akrual menjadi komponen discretionary dan non-discretionary menimbulkan masalah yang cukup besar. Hal ini disebabkan komponen non-discretionary berhubungan dengan level aktivitas bisnis. Sebagai contoh, jika sebuah perusahaan menderita diakibatkan adanya imbas dari persaingan luar negeri, perusahaan mungkin memiliki piutang yang lebih kecil, perusahaan juga mungkin harus menunda pembayaran kewajiban, dan menghapus sejumlah besar persediaan yang bergerak lamban. Hal-hal ini merupakan akrual negatif tapi mereka bisa disebut sebagai discretionary. Bagaimana mungkin seorang peneliti, yang tidak memiliki akses terhadap perusahaan ataupun hal-hal semacamnya dan harus bekerja dengan menggunakan laporan keuangan, memisahkan mereka dan total akrual sehingga bisa mendapatkan komponen discretionary?
Pendekatan Jones pada masalah ini adalah untuk memperkirakan persamaan regresi berikut ini untuk tiap perusahaan j dalam sampelnya, selama periode awal sampai pada tahun penyelidikan ITC.
Tujuan dari AREVjp adalah untuk mengkontrol akrual non-discretionary dari asset pada tahun berjalan dan kewajiban, dengan dasar bahwa hal ini bergantung pada aktifitas bisnis yang yang diukur melalui penerimaan. Juga PPEjt mengkontrol komponen non-discretionary dari depresiasi beban yang didasarkan pada investasi perusahaan pada capital usxels.
Dengan model regresi ini memperkirakan tiap-tiap perusahaan sampel, Jones menggunakannya untuk memprediksi akrual non-discretionary selama tahun-tahun penelitian 1TC, yaitu

                                Ujp=TAjp-la,+p,jAREVjp+ PPE,,/

Dimana p adalah tahun penelitian, TAjp adalah total akrual perusahaan j untuk tahun berjalan, dan kuantitas yang berada dalam kurung adalah non-disretionary yang diprediksi untuk tahun berjalan dari model regresi. Istilah Ujp adalah untuk menerangkan akrual discretionary untuk tahun p pada perusahaan j. Hipotesis biaya politik memprediksikan bahwa Ujp akan menjadi negatif sehingga perusahaan yang menggunakan akrual discretionary untuk memaksa turun pendapatan bersih yang dilaporkan.  Jones menemukan bukti dari tingkah laku prediksi. Untuk hampir semua perusahaan yang terdapat pada sampel, akrual discretionary seperti yang diperhitungkan dengan menggunakan persamaan adalah negatif secara signifikan pada tahun-tahun penelitian ITC. Akrual yang negatif tidak ditemukan pada tahun-tahun sebelum penelitian ITC maupun sesudahnya. Hasil ini, walaupun tidak sekuat yang diharapkan, menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan yang terkena imbasnya secara sistematis memilih kebijakan yang akrual untuk meningkatkan/memperbaiki kasus mereka dalam perlindungan impor, konsisten dengan hipotesis biaya politik.






D.    Membedakan Bagian Oportunistis Versus Versi Kontrak Pat Yang Efisien
Seperti yang sudah disebutkan, ketiga hipotesis PAT sudah disebutkan dalam bentuk yang oportunis, yaitu mereka mengasumsikan bahwa manajer memilih kebijakan akuntansi untuk memaksimalisasi utilitas relatif mereka yang mereka harapkan terhadap pemberian imbalan mereka dan kontrak hiitang dan biaya politik. Ketiga hipotesis ini juga bisa dinyatakan dalam bentuk efisiensi dengan asumsi bahwa sistem kontrol internal, termasuk monitor dari dewan direktur, oportinisme yang dibatasi, dan memotivasi manajer untuk memilih kebijakan akuntansi yang meminimalisasi biaya kontrak.
Sering kali, kedua bentuk PAT ini menbuat prediksi yang mirip. Sebagai contoh, dari hipotesis rencana bonus, seorang manajer mungkin memilih metode depresiasi garis lurus dibandingkan, katakanlah, declining balance sehingga bisa meningkatkan pemberian imbalan secara oportunistik. Namun demikian, kebijakan yang sama bisa dipilih untuk kepentingan hipotesis bonus untuk alasan efisiensi. Anggap jika metode depresiasi garis lurus mengukur dengan baik opportunity cost terhadap perusahaan yang menggunakan asset tetapnya. Depresiasi garis lurus memberikan hasil pada pendapatan yang dilaporkan yang bisa mengukur kinerja manajer dengan lebih baik. Hasilnya, kebijakan ini akan memotivasi manajer dengan relatif lebih efisien (yang merupakan tujuan bonus itu sendiri sejak dan awal) terhadap kebijakan depresiasi yang lain. Juga, seperti yang diketengahkan Sweeney (1994), jika suatu perusahaan berada dalam bahaya perubahan pada kesepakatan hutangnya terhadap persediaannya yang menggunakan sistem LIFO, hal ini bisa dikatakan sebagai peningkatan oportunistik keuntungan pada beban kreditur. Alternatif lain, jika perubahan yang merugikan muncul dari kepatuhan sebuah aktivitas bisnis, mengurangi perseidiaan bisa menjadi strategi bisnis yang efisien untuk meningkatkan arus kas, terutama pada perusahaan yang mengalami kerugian pajak.
 Konsekuensinya, bisa menjadi sulit untuk menyatakan apakah observasi yang dilakukan perusahaan dalam memilih kebijakan akuntansi didorong oleh oportunistik ataukah efisiensi. Tetapi, tanpa bisa mengetahui kemungkinan-kemungkinan ini, sulit dikatakan bahwa kita mengerti proses pemilihan kebijakan akuntansi. Riset PAT masa ini membahas masaah ini. Sebagai contoh, Christie dan Zimmerman (1994) meneliti pemilihan kebijakan akuntansi dalam sampel perusahaan-perusahaan yang menjadi target pengambilalihan. Alasan mereka adalah jika pemilihan kebijakana kuntansi yang oportunistik muncul, akan menjadi pertahanan pada perusahaan yang akan diambil alih, sementara manajemen berusaha untuk mempertahankan pekerjaan dan reputasi mereka dengan memaksimailisasi pendapatan bersih keadaan keuangan yang dilaporkan. Christie dan Zimmennan menemukan bahwa, bahkan pada sampel semacam itu, efek dari pemilihan akuntansi peningkatan pendapatan relatif sangat kecil. Dari sini, mereka mengambil alasan bahwa perluasan dari oportunisme pada populasi perusahaan yang besar bahkan lebih kecil lagi.
Pada awal tadi sudah kita menyebutkan Sweeney (1994) menemukan bahwa manajer mayoritas memikirkan biaya versus keuntungan dari perubahan kebijakna akuntansi, dan lebih banyak mengubah kebijakan akuntansi didasarkan pada masalah kesepakatan hutang hanya jika hal tersebut efektif dari segi biaya. Jika saja versi oportunistik dari hipotesis kesepakatan hutang muncul, manajer akan cenderung tidak terlalu peduli dengan biaya pada usaha mereka untuk membuat manuver atas masalah-masalah kesepakatan mereka.
Sweeney mengetengahkan bukti-bukti tambahan dalam versi efisiensi PAT dengan mengidentifikasi empat perusahaan dari sampelnya yang bisa saja sudah menunda perubahan dengan mengubah LIFO tetapi memilih untuk tidak melakukannya. Semua perusahaan ini bisa memunculkan biaya pajak substansial jika mereka sudah merubahnya. Dia juga mengidentifikasikan tiga perusahaan yang baru saja memutuskan untuk tidak memunculkan biaya perubahan satu kebijakan akuntansi karena efek pendapatan jika melakukan hal tersebut tidak akan cukup besar untuk menunda perubahan. Secara keseluruhan, hasil temuan Sweeney mendukung kedua versi PAT tapi menyarankan analisis perusahaan yang spesifik dan detail untuk dapat memisahkan keduanya.
Riset Dechow (1994) juga berhubungan dengan kedua versi PAT. Dia berargumentasi bahwa jika akrual adalah hasil yang besar manipulasi hasil oportunistik pada laba yang dilaporkan, pasar yang efisien akan menolak mereka, dalam favor arus kas, dimana kasus arus kas harus lebih diasosiasikan dengan kembalian saham dibandingkan dengan pendapatan bersih. Alternatif lain, jika akrual merefleksikan kontrak yang efisien, pendapatan bersih sehamnya lebih bisa diasosiasikan dengan kembalian saham daripada arus kas. Tes empirisnya, menemukan bahwa pendapatan bersih lebih banyak diasosiasikan dengan kembalian  daripada arus kas. 
Dechow juga berargumen bahwa jika akrual relatif besar, (seperti contohnya pada perusahaan-perusahaan yang tumbuh dengan cepat), pendapatan bersih bahkan harus lebih diasosiasikan lagi dengan kembalian saham, relatif terhadap arus kas, daripada pada saat perusahaan dalam keadaan stabil (dimana arus kas dan pendapatan bersih dalam keadaan seimbang). Tes empirisnya menemukan bahwa ini adalah inti kasusnya, memberikan dukungan lebih jauh terhadap kontrak yang efisien. 

E.    Kesimpulan   
Kesimpulan

Akuntansi adalah seni pencatatan, pengolahan, dan peringkasan transaksi dan kejadian yang bersifat keuangan dengan cara yang berdaya guna dalam bentuk satuan uang, dan penginterprestasian hasil proses tersebut. Sedangkan teori akuntansi merupakan susunan konsep, definisi, dalil yang menyajikan secara sistematis gambaran fenomena akuntansi yang menjelaskan hubungan anatara variable dengan vriabel lainnya dalam struktur akuntansi dengan maksud dapat menjelaskan dan meramalkan fenomena yang mungkin akan muncul.
Periodisasi teori akuntansi dibagi menjadi pre theory period, general scientific period, normative period, dan specific scientific period.
Perumusan teori akuntansi dibedakan menjadi dua pendekatan, yaitu pendekatan informasi dan pendekatan teoritis. Pendekatan informal dibagi dalam pendekatan non teoritis dan pendekatan otoriter, sedangkan pendekatan teoriti dibagi ke dalam pendekatan deduktif , induktif, etik, sosiologis, ekonomi, dan eklektif. Atas dasar tujuannya teori akuntansi diklasifikasikan dalam dua jenis yaitu teori akuntansi normative yang memberikan resep terhadap teori praktek akuntansi, dan teori akuntansi positif yang berusaha menjelaskan dan memprediksikan fenomena yang berkaitan dengan akuntansi.
Dalam teori akuntansi normative, isi akuntansi dianggap sebagai norma peraturan yang harus diikuti, tidak peduli apakah berlaku atau dipraktekkan sekarang atau tidak. Metode ini disebut juga normative accounting research atau normative theory of accounting, yang berguna dalam membahas isu “true income” dan “decision usefulness”.

Berbeda dengan teori akuntansi normatif, teori akuntansi positif berkembang seiring dengan kebutuhan untuk menjelaskan dan memprediksi realitas praktek-praktek akuntansi yang ada di dalam masyarakat. Teori akuntansi positif dimulai dari suatu modal ilmiah, dan kemudian dirumuskan problem penelitian untuk mengamati fenomena yang nyata yang tidak ada dalam teori. Untuk selanjutnya dikembangkan teori untuk mrnjelaskan fenomena tersebut dan melakukan penelitian secara terstruktur dan peraturan yang standar dengan melakukan perumusan masalah, penyusunan hipotesa, pengumpulan data dan pengujian statistic ilmiah, sehingga diketahui apakah hipotesa yang dirumuskan diterima atau tidak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar