Minggu, 11 Maret 2012

PARADIGMA METODOLOGI PENELITIAN


PARADIGMA METODOLOGI PENELITIAN

Paradigma penelitian merupakan kerangka berpikir yang menjelaskan bagaimana cara pandang peneliti terhadap fakta kehidupan sosial dan perlakuan peneliti terhadap ilmu atau teori. Paradigma penelitian juga menjelaskan bagaimana peneliti memahami suatu masalah, serta kriteria pengujian sebagai landasan untuk menjawab masalah penelitian (Guba & Lincoln, 1988: 89-115). Secara umum, paradigma penelitian diklasifikasikan dalam 2 kelompok yaitu penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif (Indiantoro & Supomo, 1999: 12-13). Masing-masing paradigma atau pendekatan ini mempunyai kelebihan dan juga kelemahan, sehingga untuk menentukan pendekatan atau paradigma yang akan digunakan dalam melakukan penelitian tergantung pada beberapa hal di antaranya (1) jika ingin melakukan suatu penelitian yang lebih rinci yang menekankan pada aspek detail yang kritis dan menggunakan cara studi kasus, maka pendekatan yang sebaiknya dipakai adalah paradigma kualitatif. Jika penelitian yang dilakukan untuk mendapat kesimpulan umum dan hasil penelitian didasarkan pada pengujian secara empiris, maka sebaiknya digunakan paradigma kuantitatif, dan (2) jika penelitian ingin menjawab pertanyaan yang penerapannya luas dengan obyek penelitian yang banyak, maka paradigma kuantitaif yang lebih tepat, dan jika penelitian ingin menjawab pertanyaan yang mendalam dan detail khusus untuk satu obyek penelitian saja, maka pendekatan naturalis lebih baik digunakan. Hasil penelitian akan memberi kontribusi yang lebih besar jika peneliti dapat menggabungkan kedua paradigma atau pendekatan tersebut.
Penggabungan paradigma tersebut dikenal istilah triangulation. Penggabungan kedua pendekatan ini diharapkan dapat memberi nilai tambah atau sinergi tersendiri karena pada hakikatnya kedua paradigm mempunyai keunggulan-keunggulan. Penggabungan kedua pendekatan diharapkan dapat meminimalkan kelemahan-kelemahan yang terdapat dikedua paradigma.




Pendekatan Kuantitatif
Paradigma kuantitatif menekankan pada pengujian teori melalui pengukuran variabel penelitian dengan angka dan melakukan analisis data dengan prosedur statistik. Penelitian yang menggunakan pendekatan deduktif yang bertujuan untuk menguji hipotesis merupakan penelitian yang menggunakan paradigma kuantitatif. Paradigma ini disebut juga dengan paradigma tradisional (traditional), positivis (positivist), eksperimental (experimental), atau empiris (empiricist). Jenis penelitian yang termasuk dalam paradigma penelitian kuantitatif
dibedakan berdasarkan tujuan penelitian dan karakteristik masalah (Gambar1.1).
Berdasarkan tujuan, penelitian dapat dibedakan atas: (1) penelitian dasar dan (2) penelitian terapan. Prosedur yang digunakan yang digunakan oleh penelitian dasar dan penelitian terapan secara substansi tidak berbeda. Keduanya menggunakan metode ilmiah yang berguna membantu peneliti bisnis untuk mengetahui dan memahami fenomena bisnis. Esensi dari penelitian, apakah itu penelitian dasar atau terapan, terletak pada metode ilmiah. Secara teknis perbedaan kedua jenis penelitian tersebut terletak pada tingkat permasalahan (matter of degree) daripada substansinya itu sendiri.
Penelitian Dasar. Penelitian dasar yang sering disebut sebagai basic research atau pure research dilakukan untuk memperluas batas-batas ilmu pengetahuan. Penelitian dasar ini tidak ditujukan secara langsung untuk mendapatkan pemecahan bagi suatu permasalahan khusus. Penelitian dasar dilakukan untuk memverifikasi teori yang sudah ada atau mengetahui lebih jauh tentang sebuah konsep. Hal pertama sekali yang harus dilakukan dalam penelitian dasar adalah pengujian konsep atau hipotesis awal dan kemudian pembuatan kajian lebih dalam serta kesimpulan tentang fenomena yang diamati. (wibisono, 2002: 4-5).
Penelitian dasar dibedakan atas pendekatan yang digunakan dalam
pengembangan teori yaitu:
�� Penelitian deduktif, yaitu penelitian yang bertujuan menguji teori pada keadaan tertentu.
�� Penelitian induktif, yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan (generating) teori atau hipotesis melalui pengungkapan fakta.
Penelitian Terapan. Penelitian terapan berbeda dengan penelitian dasar, penelitian terapan dilakukan untuk menjawab pertanyaan tentang permasalahan yang khusus atau untuk membuat keputusan tentang suatu tindakan atau kebijakan khusus. Penggunaan metode ilmiah dalam penelitian terapan menjamin objektivitas dalam mengumpulkan fakta dan menguji ide kreatif bagi alternatif strategi bisnis. Penelitian terapan dibedakan atas:
�� Penelitian evaluasi, yaitu penelitian yang diharapkan dapat member masukan atau mendukung pengambilan keputusan tentang nilai relatif dari dua atau lebih alternatif tindakan.
�� Penelitian dan pengembangan, yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan produk sehingga produk tersebut mempunyai kualitas yang lebih baik.
�� Penelitian tindakan, yaitu penelitian yang dilakukan untuk segera digunakan sebagai dasar tindakan pemecahan masalah.

Perbedaan antara penelitian dasar dan penelitian terapan dapat dilihat pada Tabel 1.1.

Berdasarkan karakteristik masalah, penelitian dapat dibedakan atas:
�� Penelitian Historis, yaitu kegiatan penelitian, pemahaman, dan penjelasan kondisi yang telah lalu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sebab atau dampak dari kejadian yang telah lalu untuk menjelaskan fenomena yang terjadi sekarang atau untuk memprediksi kondisi masa yang akan datang.
�� Penelitian Deskriptif, yaitu pengumpulan data untuk menguji hipotesis atau menjawab pertanyaan mengenai status terakhir dari subyek penelitian.
�� Penelitian Kasus dan Lapangan, merupakan penelitian dengan karakteristik masalah yang berkaitan dengan latar belakang dan kondisi saat ini dari subyek yang diteliti, serta interaksinya dengan lingkungan. Tujuan penelitian ini untuk melakukan secara mendalam mengenai
subyek tertentu untuk memberikan gambaran yang lengkap mengenai subyek tertentu.
�� Penelitian Korelasional, adalah penelitian yang bertujuan menentukan apakah terdapat asosiasi antarvariabel dan membuat prediksi berdasarkan korelasi antarvariabel. Jika hubungan antarvariabel cukup tinggi, kemungkinan sifat hubungannya merupakan sebab akibat (causaleffect).
�� Penelitian Kausal-Komparatif, merupakan tipe penelitian dengan karakteristik masalah berupa sebab akibat antara 2 variabel atau lebih. Penelitian ini merupakan tipe penelitian ex post facto.
�� Penelitian Eksperimen, merupakan tipe penelitian dengan karakteristik masalah yang sama dengan penelitian kausal komparatif, tetapi dalam penelitian eksperimen peneliti melakukan manipulasi atau pengendalian (control) terhadap setidaknya satu variabel independen.
Pendekatan Kualitatif
Paradigma kualitatif ini merupakan paradigma penelitian yang menekankan pada pemahaman mengenai masalah-masalah dalam kehidupan sosial berdasarkan kondisi realitas atau natural setting yang holistis, kompleks, dan rinci. Penelitian yang menggunakan pendekatan induksi yang mempunyai tujuan penyusunan konstruksi teori atau hipotesis melalui pengungkapan fakta merupakan penelitian yang menggunakan paradigma kualitatif. Paradigma ini disebut juga dengan pendekatan konstruktifis, naturalistik atau interpretatif (constructivist, naturalistic or interpretative approach), atau perspektif post-modern.

Gambar 1.2 memperlihatkan klasifikasi penelitian kualitatif.

 
PERKEMBANGAN PARADIGMA METODOLOGI PENELITIAN
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat serta tuntutan manusia untuk memperoleh kebenaran secara lebih komprehensif, maka metodologi penelitian sebagai sebuah disiplin yang bertujuan untuk memperoleh kebenaran juga mengalami pergeseran, khususnya pada aspek epistemologis. Jika selama ini landasan paradigmatik penelitian dikembangkan secara dikotomik dan tajam antara paradigma positivistik (yang menjadi dasar metode penelitian kuantitatif) dan paradigma interpretif (yang menjadi dasar metode penelitian kualitatif), maka sekarang mendikotomikan kedua paradigma tersebut tidak lagi relevan. Sebab, kenyataannya, menurut Yusufhadi Miarso (2005: 1),  penelitian kuantitatif dan kualitatif  bisa dipakai secara bersama-sama dalam satu proyek penelitian.
Tidak jarang penelitian kuantitatif memerlukan data kualitatif untuk memperkuat penjelasannya, dan sebaliknya penelitian kualitatif memerlukan data kuantitatif sebagai data pendukung. Misalnya, peneliti kualitatif bidang pendidikan yang melakukan kajian terhadap menurunnya nilai Ujian Nasional pada bidang studi tertentu tentu memerlukan data kuantitatif berupa skor atau nilai ujian berupa angka.
Selain itu, hasil akhir penelitian kuantitatif yang berupa angka perlu pemaknaan secara lebih mendalam dan spesifik secara kualitatif. Sebaliknya, penelitian kualitatif yang berakhir dengan tesis atau proposisi dan hanya berlaku dalam lingkup yang sempit dan spesifik perlu diaplikasikan dalam lingkup yang lebih luas dengan menggunakan populasi. Karena itu, paradigma interpretif tidak dilihat sebagai paradigma tandingan (counter paradigm) terhadap paradigma positivistik, melainkan suatu paradigma lanjutan atau (continuum paradigm).  Karena tidak lagi dipandang sebagai tandingan, maka paradigma interpretif bisa juga disebut sebagai paradigma post-positivistik. Di luar kedua paradigma tersebut, hermeneutika hadir sebagai paradigma dan sekaligus varian lain metode penelitian kualitatif, khususnya untuk memahami teks secara lebih komprehensif.
Namun demikian, memahami secara komprehensif mengenai landasan filsafat dan cara pandang masing-masing paradigma tetap sangat penting.
Landasan  filosofis masing-masing paradigma, terutama dari aspek sejarah kelahirannya, dan cara memandang dan memperoleh kebenaran
Positivistik
1.    berasal dari tradisi ilmu alam dan ilmu eksakta, dipelopori oleh filsuf Perancis, August Comte, (1798-1875).
2.    dimulai dari teori/hipotesis.
3.    dunia dipandang sebagai sesuatu yang sudah tertata secara sistematik, terpola dan obyekif.
4.    bertujuan untuk memperoleh generalisasi dengan cara mencari hubungan antar-variabel
5.    diperlukan populasi, sampel, variabel, dan uji validitas instrument.
6.    kebenaran yang dicari adalah sesuatu yang telah ada.
7.    research, yang artinya mencari kembali, logikanya sesuatu yang dicari itu telah ada sebelumnya.
8.    karena itu, tugas peneliti adalah menemukan kebenaran yang selama ini belum ditemukan lewat proses deduktif .
9.    penelitian ini bersifat value-free. Artinya, peneliti tidak terikat dengan topik penelitian. Misalnya, penelitian tentang “Pengaruh perubahan iklim terhadap produkti-vitas pertanian”, peneliti tidak bisa mempengaruhi hasil penelitian tersebut. Tugas peneliti adalah menjelaskan apa yang terjadi apa adanya secara obyektif, sehingga peneliti disebut sebagai pengamat obyektif terhadap peristiwa yang diteliti.
10. pengetahuan merupakan kenyataan atau fakta yang dapat diverifikasi secara empirik dan dapat diukur dalam angka melalui statistik.
11. tidak mencari makna di balik sesuatu yang tampak.
12. yang termasuk dalam paradigma ini adalah:
·         penelitian eksperimen
·         kuasi eksperimen
·         survei
·         penelitian korelasional
·         penelitian ex-post facto
·         sensus
Interpretif/Post-positivistik
1.    berasal dari tradisi ilmu sosial, khususnya sosiologi dan antropologi, yang diawali oleh  kelompok ahli sosiologi dari “mazhab Chicago” pada tahun 1920-1930.
2.    pada tahun 1960 di Amerika dan pada 1970-an di negara-negara berbahasa Jerman, paradigma interpretif mengalami kebangkitan
3.    Sejak saat itu, paradigma ini berkembang pesat, khususnya dalam ilmu sosial dan humaniora
4.    dunia dipandang sebagai sesuatu yang tidak tertata dan terpola secara obyektif, sehingga diperlukan pendekatan khusus untuk memahami setiap gejala yang muncul
5.    tidak seperti paradigma positivistik yang dimulai dari teori/hipotesis, paradigma interpretif dimulai dari suatu fenomena yang selanjutnya didalami untuk menghasilkan teori
6.    tujuannya ialah untuk memahami makna atas  pengalaman seseorang atau sekelompok orang dalam suatu peristiwa
7.    pengalaman bukan kenyataan empirik yang bersifat obyektif, melainkan pelajaran yang bisa dipetik dari peristiwa yang dilalui seseorang
8.    kebenaran diperoleh lewat pemahaman secara holistik, dan tidak semata tergantung pada data atau informasi yang teramati, melainkan pula mendasarkan pada informasi yang tidak tampak dan digali secara rinci
9.    akal sehat (common sense)  bisa menjadi landasan mencari kebenaran
10. kebenaran bersifat unik, dan tidak bisa berlaku secara umum dan diperoleh lewat proses induktif
11. penelitian ini bersifat value-bound, sehingga peneliti terlibat secara aktif bersama subyek untuk memperoleh kebenaran
12. yang termasuk dalam paradigma ini adalah:
·         penelitian etnografi
·         penelitian fenomenologi
·         studi kasus
·         grounded research
·         etnometodologi
·         studi teks
Hermeneutika
1.    berasal dari tradisi gereja sebagai metode eksegesis (penafsiran teks-teks agama) dan kemudian berkembang menjadi “filsafat penafsiran” kehidupan sosial.
2.    istilah hermeneutika muncul pertama kali pada karya seorang teolog  Jerman  bernama Johann Konrad Danhauer (1603-1666) berjudul : Hermeneutica sacra, Sive methodus Eksponendarums Sacrarum Litterarum,
3.    dikembangkan oleh tokoh-tokoh mulai F.D.E. Schleiermacher ( 1768- 1834),  Wilhelm Dilthey, Hans-Georg Gadamer, hingga Paul Ricoeur, Jurgen Habermas, Jacques Derrida, Foucault, Lyotard, Baudrillard.
4.    tujuannya ialah memperoleh kebenaran dengan cara menafsirkan  teks berdasarkan konteks yang sedang berlangsung
5.    pengkaji hermeneutika harus memiliki pra-pemahaman atau prejudice atas obyek yang dikaji, sehingga tidak mungkin untuk memulainya dengan pemikiran netral.
6.    dunia tidak dipandang sebagai sesuatu yang obyektif dan subyektif, melainkan hasil interpretasi pengkajinya sesuai konteks yang sedang berlangsung
7.    kebenaran tidak bersifat analitik (seperti dalam paradigma positivistik) dan holistik (seperti dalam paradigma interpretif), melainkan sintetik, yaitu memadukan pendapat yang berlawanan secara dialektik.
8.    pendekatannya tidak deduktif dan induktif, melainkan sinkretik, yakni menggunakan berbagai pandangan secara teoretik dan praktik dengan memasukkan aspek-aspek moral, sosial dan politik. Seorang guru memberikan penilain akhir kepada muridnya tidak hanya berdasarkan atas hasil ujian saja, melainkan juga perilaku kesehariannya
9.    kebenaran diperoleh melalui penafsiran yang tidak memihak, walau diawali dengan pra-pengetahuan atau prejudice.
10. kebenaran merupakan sesuatu yang dapat diterima oleh semua pihak
11. studi ini bersifat value-bound
12. ada dua jenis aliran hermeneutika, yaitu:
·         hermeneutika intensionalisme ( di mana makna teks diperoleh dari produsernya), dan
·         hermeneutika Gadamerian ( di mana makna teks berada pada tangan pembacanya).
Mengikuti perkembangan metodologi penelitian menjadi sangat penting bagi para peminat metodologi penelitian pada bidang apapun. Paradigma positivistik dan post-positivistik serta hermeneutika masing-masing tidak lagi dipandang sebagai tandingan atas yang lain, melainkan suatu kontinum metodologis yang saling melengkapi dan bisa dipakai secara bersama-sama.
Dalam perkembangan lebih lanjut, para peminat metodologi penelitian kini ditantang untuk mendalami lebih jauh mengenai perspektif ideologi baru dalam penelitian seperti paradigma post-modernisme, paradigma kritis atau refleksif, pendekatan feminisme, pendekatan konstruktivisme, pendekatan Content Analysis, Discourse Analysis, dan Critical Discourse Analysis. Belakangan para pengkaji teks juga mengembangkan pendekatan Content Analysis yang positivistik menjadi Qualitative Content Analysis yang lebih bersifat post-positivistik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar